Paper Editor – Dalam hierarki publikasi ilmiah di Indonesia, jurnal yang terakreditasi Sinta 2 memegang posisi yang sangat prestisius. Berada tepat satu tingkat di bawah Sinta 1 (jurnal terindeks Scopus/Web of Science), Sinta 2 seringkali dianggap sebagai “pintu gerbang” menuju reputasi internasional.
Namun, seiring dengan meningkatnya persaingan, banyak peneliti yang merasa kesulitan untuk menembus standar kualitas jurnal di kategori ini.
Baca Juga: Tips Menyusun Judul Skripsi dan Jurnal yang Gampang Diterima Dosbing hingga Penguji
Tingkat kesulitan Sinta 2 terletak pada ketajaman analisis dan metodologi. Berbeda dengan Sinta 3 atau 4 yang mungkin lebih toleran terhadap studi deskriptif, pengelola jurnal Sinta 2 biasanya menuntut adanya kebaruan (novelty) yang nyata.
Beberapa hambatan utama yang sering ditemui meliputi:
- Rasio Penerimaan yang Rendah: Banyak jurnal Sinta 2 menerima ratusan naskah tiap bulannya, sementara kuota publikasi hanya berkisar 10-15 artikel per edisi.
- Reviewer yang Ketat: Reviewer pada level ini biasanya adalah para pakar yang juga aktif menulis di jurnal internasional. Mereka sangat teliti dalam melihat celah pada data dan argumen.
- Standar Teknis Tinggi: Mulai dari referensi yang harus terbaru (5-10 tahun terakhir) hingga penggunaan bahasa (meskipun bahasa Indonesia) yang harus sangat akademis dan formal.
Tips Rahasia Agar Lolos dari Reviewer
Untuk dapat meluluhkan hati reviewer dan editor, naskah Anda harus menonjol sejak halaman pertama. Berikut adalah beberapa tips praktis:
1. Novelty yang Terdefinisikan dengan Jelas
Jangan biarkan reviewer mencari-cari apa kebaruan riset Anda. Nyatakan secara eksplisit di bagian pendahuluan: “Penelitian ini mengisi celah (gap) yang belum dibahas oleh peneliti A dan B dengan cara…”. Reviewer sangat menghargai peneliti yang sadar akan posisi risetnya di tengah literatur yang sudah ada.
2. Metodologi yang “Tak Tergoyahkan”
Bagian metodologi adalah jantung dari sebuah artikel ilmiah. Pastikan Anda menjelaskan setiap langkah dengan detail (reproducible). Jika Anda menggunakan kuantitatif, pastikan uji validitas dan reliabilitasnya kuat. Jika kualitatif, tunjukkan triangulasi data yang kredibel.
3. Diskusi yang Mendalam (Bukan Sekadar Ringkasan)
Kesalahan fatal penulis adalah mengulang-ulang hasil temuan di bagian pembahasan (Discussion). Reviewer Sinta 2 mencari interpretasi. Bandingkan temuan Anda dengan teori yang ada atau penelitian sebelumnya. Apakah temuan Anda mendukung, membantah, atau memperluas teori tersebut?
4. Kepatuhan Buta terhadap Selingkung (Template)
Editor jurnal Sinta 2 sangat sibuk. Mengirimkan naskah yang tidak sesuai template atau gaya sitasi jurnal adalah cara tercepat untuk mendapatkan desk reject (penolakan langsung tanpa review). Pastikan margin, jenis font, dan cara sitasi (APA, IEEE, dsb) sudah 100% akurat.
5. Referensi Primer dan Mutakhir
Gunakan minimal 80% referensi dari artikel jurnal primer (bukan buku teks atau blog) dan pastikan sebagian besar diterbitkan dalam 5 tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa Anda mengikuti perkembangan terbaru di bidang ilmu tersebut.
6. Menanggapi Review dengan Elegan
Jika naskah Anda dikembalikan dengan status Revision (baik Major maupun Minor), jangan berkecil hati. Tanggapi setiap poin dari reviewer dengan sopan dalam dokumen Response to Reviewers. Jelaskan di halaman mana dan paragraf mana perubahan tersebut dilakukan. Jangan pernah mengabaikan satu pun saran reviewer tanpa alasan ilmiah yang kuat.
Menembus Sinta 2 bukan sekadar masalah keberuntungan, melainkan masalah ketekunan dan kepatuhan standar. Dengan mempersiapkan naskah yang memiliki novelty kuat dan mengikuti aturan main teknis, peluang Anda untuk mendapatkan surat penerimaan (Letter of Acceptance) akan meningkat drastis.



0 Comments