Paper Editor – Jurnal ilmiah menjadi salah satu tren baru yang dikejar banyak praktisi, akademisi, dosen bahkan hingga mahasiswa di era 2020 an ini. Namun seiring bertambahnya kebutuhan jurnal, juga memunculkan banyak lembaga swasta atau non Perguruan Tinggi yang menjadi publisher sebuah jurnal.

Fenomena ini tentunya sangat unik, Pemerintah mengamini adanya lembaga swasta (publisher, CV, PT dengan badan hukum) secara sah dan bahkan bisa terkakreditasi SINTA sebagai jurnal yang diakui.

Bahkan beberapa kalangan yang tidak berlegalitas pun, berbondong-bondong untuk membuat OJS jurnal yang dikelolanya secara personal.

Baca Juga: Mau Submit Jurnal, Mahasiswa Harus Paham Bulan dan Momentum yang Pas Biar Gak Bayar Mahal

Fenomena ini sangat unik dan bisa dikatakan masih menyisakan pertanyaan besar, apakah ini akan mendorong kemajuan atau kemuduran keilmuan. Karena di balik itu semua, penghasilan dan aspek bisnis yang menjadi latar belakangnya.

Ini menjadi pedang bermata dua yang menjadi sebuah problem dalam membangun peradaban bangsa untuk terus maju dan bersaing dengan dunia luar.

Sementara itu, mimpi besar dari paper editor adalah membuat OJS dengan free APC atau tidak berbayar, guna pengembangan keilmuan yang sesungguhnya.

Baca Juga: Mahasiswa Indonesia Harus Go Internasional, Scopus Sediakan Ribuan Jurnal

Dr. Latif Syaipudin, S.Pd.I., M.Pd., merupakan founder paper-editor.com berpandangan mengenai OJS paper editor ke depan, bahwa ini menjadi bentuk nyata kontribusinya sebagai akademisi dalam membangun keilmuan.

Khususnya semua jurnal akan terseleksi dengan baik, sesuai kriteria dan tanpa adanya publikasi. Meskipun jurnalnya tidak akan pernah mendapatkan akreditasi SINTA ataupun indeks lainnya.

Esensi keilmuan adalah pengembangan outputnya, bukan terletak pada aspek bisnisnya saja.