Paper Editor – Banyak sekali dalam jurnal, skripsi, tesis, dan ragam tugas akhir lainnya yang menggunakan hipotesis dalam penelitian kuantitatif.

Bahkan hipotesis adalah hal yang condong wajib diujikan dalam penelitian kuantitatif, apapun analisis yang digunakan. Meskipun pada beberapa kasus penelitian kuantitatif tidak menggunakan hipotesis.

Nah… banyaknya ragam perumusan hipotesis dan inteprestasinya, tentunya menjadikan kalangan awam akan kebingungan. Apalagi dia telah membaca banyak literasi penelitian terdahulu, ini akan semakin membagongkan.

Baca Juga: Survei Sederhana, Mahasiswa Kesulitan Temui Dosen Pembimbing Karena Kesalahannya Sendiri

Pilihan terbaik dalam menentukan hipotesis pada dasarnya, terletak pada tujuan dasar pelaksanaan penelitian. Misalnya saja penelitian asosiatif maka meneliti hubungan, kalimatnya adalah apakah ada hubungan. Pada penelitian komparatif, apakah ada perbedaan.

Sesederhana itu, sehingga menyusun hipotesis bagi pemula tidak perlu bertele-tele dengan embel-embel positif dan signifikan, kecuali memang atas rekomendasi dosen atau kewajibannya demikian.

Sederhana saja, cukup apakah variabel x berpengaruh terhadap variabel y?, jadi tidak perlu ribet-ribet menyusun atau menentukan rumusan atau hipotesis dengan embel-embel positif dan signifikan.

Baca Juga: Cara Melakukan Submit Jurnal di OJS, Umumnya Ada 4 Tahap Utama yang Harus Dikerjakan

Bagi peneliti pemula, embel-embel positif dan signifikan akan menyusahkan, karena terdapat beberapa kriteria uji yang harus dilalui. Bagi kalangan pro mungkin tidak akan menyulitkan mengenai tambahan atau embel-embel tersebut.

Rekomendasi akhir dari artikel tidak penting ini adalah, jangan susah-susah menyusun rumusan dan hipotesis, cukup ada pengaruh atau tidak saja. Karena tujuan akhir penelitian adalah sama, melakukan uji untuk mengetahui hasil akhirnya.